Sejarah Bobotoh

Sejarah Bobotoh


[FOTO] Pendukung Persib atau Bobotoh saat berada di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta


Bobotoh adalah sebutan untuk pendukung klub sepak bola Persib Bandung. Nama ini berasal dari bahasa Sunda yang berarti ”orang-orang yang mendorong atau membangun semangat bagi orang lain”. Bobotoh tidak mengenal usia muda atau tua mereka yang bersorak atau mendukung Persib di sebut Bobotoh.

Sejak dahulu pendukung Persib sudah ada pada awal-awal kelahiran klub tersebut, sejarah tercatat dimana pada saat itu pendukung Persib atau Bala Kurawa (sebutan pada era tersebut) sudah memberikan dukungannya hingga keluar kota, ketika itu terjadi pada final era Perserikatan antara Persib vs Persis Solo di Stadion Sriwedari, Kota Solo pada tahun 1937. Tertulis juga oleh media massa Majalah khusus olahraga yang di terbitkan Otto Islandar pada tahun 1937, pendukung Persib sudah menceritakan keberadaannya saat berada di Lapangan Tegalega dan Ciroyom Bandung ketika Persib bertanding.

Seiring prestasi klub tersebut, fanatik, loyalitas, dan kecintaan Bobotoh begitu semakin besar, mereka selalu hadir dimanapun berada mereka datang berbondong bondong tanpa menunjukan statusnya sebagai anggota kelompok organisasi tertentu, semua sama rata sama rasa bersatu sebagai pendukung Persib. Dari awal kemunculannya hingga sekarang peran Bobotoh mempunya peran tersendiri terhadap perkembangan klub, tidak heran memang klub yang mereka dukung semakin besar karena pengaruh pendukung mereka sendiri. Selain itu ekpresi Bobotoh yang tidak pernah berubah hingga sampai kini adalah rasa kecewa mereka teradap wasit Djaffar Umar ketika pertandingan final Perserikatan antara Persib vs PSMS Medan pada tahun 1985, mereka merasa Persib di curangi oleh wasit Djaffar Umar, ekpresi tersebut kemudian berkembang menjadi frasa “Wasit Goblog” yang di lontarkan Bobotoh ketika Persib di curangi oleh wasit hingga sat ini.
Sebutan nama Bobotoh mulai terkenal pada akhir tahun 80-an, pada saat itu dimana banyak tokoh-tokoh atau artis yang melontarkan istilah “Ngabobotohan Persib ka Senayan” kemudian media cetak lokal atau media nasional mulai mempopulerkan nama Bobotoh sebagai sebutan pendukung Persib hingga saat ini.

Modern Culture
Seiring berkembangnya jaman pada era Liga Indonesia 1994/1995, Bobotoh mulai banyak membentuk suatu perkumpulan atau kelompok pendukung Persib, dan individu tersebut tergabung dalam beberapa organisasi, diantaranya Viking Persib Club (VPC), The Bomber (Bobotoh Maung Bandung Bersatu), Flowers City Casuals, La Curva Pasundan, TS1 dan lainnya. Dari beberapa kelompok tersebut yang paling terkenal dan terbesar anggotanya adalah Viking Persib Club (VPC). Pada awal perubahan ini mulai terlihat kelompok kelompok suporter di indonesia dan mulai berkembang di awal tahun 2000an. Kekerasan sepakbola di indonesia sudah semakin tak terkendali, banyak terjadi korban akibat terjadinya bentrok dan sebagainnya.

Bobotoh atau pendukung Persib banyak tergabung dalam beberapa grup di dalamnya, namun banyak juga yang tidak tergabung dan hanya seorang Bobotoh biasa baik muda bahkan tua, diantaranya adalah :

Viking Persib Club
VPC sudah ada sebelum organisasi dan kelompok suporter klub lain di Indonesia mulai menjamur pada akhir 1990-an, kelompok suporter Persib dengan jumlah anggota resmi terbesar ini sudah mendeklarasikan diri pada 17 Juli 1993.

The Bomber – Bobotoh Maung Bandung Bersatu
Bomber Persib mulai di rintis sejak 1997 tak kurang dari dua lusin perkumpulan Bobotoh telah menyatakan sikap untuk berafiliasi an akhirnya mendeklarasikan Bomber di Hotel Santika Bandung pada tanggal 3 agustus 2001

Flowers City Casuals
Berawal dari kesukaan akan budaya inggris, hoby bergaya dengan brand eropa dan kecintaan pada Persib Bandung, sekitar tahun 2005 berdirilah FCC. Berbeda dengan klub penggemar Persib Bandung lainnya. FCC tidak memiliki struktur organisasi dan keanggotaan formal.

La Curva Pasundan
LCP adalah kelompok beraliran ultras atau suporter itali yang sangat fanatik LCP mengadopsi ultras ultras eropa dan terbukti mereka selalu menjadi perhatian dengan aksi kreatif koreo grafi serta membawa bendera bendera besar dan nyanyian yang menggema di stadion.

TS1
Taman Sari 1 atau TS1 kelompok ini lahir dari sebuah pergerakkan mahasiswa di Universitas Islam Bandung (Unisba) tahun1999 yang menyatakan tidak memihak terhadap kelompok suporter manapun. Berawalkan 8 orang kelompok ini berdiri, hingga saat ini sekitar 50 orang lebih, mereka berpenampilan Casual seperti Hooligan eropa timur atau Inggris, TS1 tidak memiliki struktur organisasi dan keanggotaan formal.

Tradition of Bobotoh
Sejak dahulu Bobotoh adalah suporter yang mewariskan tradisi budaya turun temurun khususnya bagi orang Bandung sendiri, Bahkan salah satu tokoh dari Bobotoh yaitu Ayi Beutik memberikan nama kedua anaknya `Jayalah Persibku dan Usab Berning` (nama sebutan Persib tahun 80-an).Selain itu Bobotoh juga terkenal nekat, mereka rela menjual barang atau pekerjaannya untuk sebuah modal demi mendukung dimanapun Persib berlaga, baik itu home atau away menggunakan jalur darat/udara misalnya kereta, bus, perahu bahkan pesawat udara.

Bobotoh in Action
Pada 18 Januari 2006, Hasil dua kali kalah berturut-turut pada laga kandang, membuat Persib diguncang people power. Sebelumnya di laga perdana sudah beredar ancaman dari Bobotoh dan kekalahan kedua akhirnya secara spontan membuat aksi demo. Ribuan Bobotoh, sesudah pertandingan Persib vs Persijap, menghadang kepulangan bus Persib dengan memblokade pintu keluar. Salah satu tokoh dari Bobotoh yaitu panglima Ayi Beutik (Viking Persib Club) dari tribun timur turun mengajak gerakan masa dari Bobotoh, dan akhirnya Bobotoh semakin banyak dan mengepung area VIP Stadion Silliwangi. Bobotoh yang di pimpin Ayi Beutik mulai meneriakan yel yel `Risnandar Mundur!` dan hujatan lainnya, Ayi Beutik angkat bicara dan menuntut agar pelatih Risnandar mundur sebagai jabatannya, manajer tim Persib Yosi Irianto saat itu meminta perwakilan dari Bobotoh untuk menyampaikan aspirasinya, namun mereka tidak puas dan masih akan tetap disana sebelum pelatih dan asistennya di ganti. Namun akhirnya Bobotoh mengalah tapi dengan catatan, jika perubahan tersebut tidak terjadi mereka akan menggelar demo besar besaran, dan hasilnya perubahan itu terjadi. Pelatih Risnandar mundur dari jabatannya dan hanya mewakili dua pertandingan saja. Pengantinya Arcaan Lurie langsung memberikan kemenangan penting saat Persib tandang ke Stadion Mandala Krida, Yogyakarta. Banyaknya Bobotoh yang tour ke Yogyakarta saat itu menjadi salah satu tour yang paling heroik. Bukan karena rivalitas suporter kedua kesebelasan, namun ketika kota Yogyakarta begitu banyak Bobotoh (malam harinya jalanan malioboro di penuhi orang-orang berkaos Persib), yang memang begitu menanti kemenangan pertama. Teristimewa dari rangkaian kejadian itu, justru hubungan antara Ayi Beutik dan Risnandar yang tetap akrab dan tetap hangat. Candaan-candaan terlontar setiap kali dua sahabat dengan peran berbeda untuk Persib ini bertemu.

Record
Bobotoh pernah menciptakan rekor jumlah penonton terbanyak sepanjang sejarah sepak bola indonesia ketika memenuhi Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada final Perserikatan 1985. Menurut dokumen majalah Tempo, kala itu sebanyak 150 ribu penonton hadir di SUGBK dan mayoritas diantaranya adalah pendukung Persib, bahkan pertandingan tersebut tercatat di AFC sebagai pertandingan amatir terbesar dan paling banyak di tonton di dunia.Pada Liga Indonesia pertama Bobotoh menciptakan rekor penonton terbesar sepanjang era sepak bola profesional indonesia, kejadian itu terjadi pada tahun 1995 saat final Liga Indonesia Persib Bandung bertemu Petrokimia di SUGBK, total sekitar 120 ribu penonton hadir memenuhi stadion terbesar di Indonesia tersebut.

Media
Bobotoh juga mempunyai stasiun radio dengan nama 96.4 Bobotoh FM yang di luncurkan 16 Juni 2011. Radio ini merupakan radio suporter pertama di Asia. Bobotoh FM dalam operasionalnya menggunakan tekhnologi Broadcasting terkini dan dapat di akses di seluruh dunia melalui internet dan Dynamic Streaming di bobotohfm.com, Para pendengar Bobotoh FM di seluruh dunia dapat saling berinteraksi secara maksimal baik secara telepon, seluler, internet, bahkan off air Bobotoh FM merupakan partner dari Cafe Persib sebagai media komunikasi dengan Bobotoh. Nama Bobotoh FM di pilih karena memiliki nilai filosopi berbasis Local Spesific Contcent yang dapat di angkat secara global.

Song for Persib and Persib Athem
Kota Bandung terkenal paling kreatif di Indonesia, banyak musisi tokoh/artis yang lahir di Bandung, pada pertengahan tahun 80-an musisi asal Bandung memberikan karyanya sebuah penghormatan terhadap Persib. Mulai pada tahun 1985-86 musisi legendaris asal Bandung membawakan lagu `Kami Cinta Persib` karya Dion Hutabarat, lagu tersebut sangat populer dan selalu di putar awal dan jeda pertandingan di Stadion Silliwangi. Setelah itu muncul beberapa musisi lainnya, seperti Bimbo yang membawakan lagu Jayalah Persibku dan yang fenomenal adalah seniman besar Kang Ibing yang membawakan lagu Maung Bandung, dari lagu itulah Persib mempunyai julukan baru selain Pangeran Biru.Pada tahun 2002, Viking Persib sebuah organisasi dari Bobotoh membuat gerakan dengan membuat album kompilasi untuk Persib, beberapa band besar seperti Koil, Harapan Jaya turut menyumbangkanaryanya, sementara Pas Band juga menyumbangkan karyanya yang sebelumnya pernah di muat di album mereka sendiri, di album pertama ini cenderung banyak mengandalkan jenis musik keras dan membakar semangat selerea anak muda saat itu.Beberapa tahun kemudian Viking merilis kembali album Viking Compilation Jilid 2, dalam album ini banyak varian jenis musik yang beragam, seniman besarpun turut berperan seperti Mocca yang mewakili jenis musik anak muda dan seniman legendaris Sunda seperti Kang Ibing dan Doel Sumbang.Di luar album kompilasi Viking, masih banyak musisi lain yang membuat lagu tentang Persib, baik yang di sisipkan di album mereka atau yang di rilis secara single. Berikut beberapa musisi/band yang membuat lagu tentang Persib :Kuburan Band – We Will Stay Behind You, Pas Band – Aing Pendukung Persib, Andi /Rif – Viva Persib, Seurius – Sihung Maung Bandung, Pascodex – Persib Juara

Viking and Bonek Relationship
Hubungan persahabatan antara Viking dan Bonek suporter Persebaya, di mulai pada tahun 2003. Ketika itu ada ikrar suporter bersatu saat gelaran Play-off Liga Indonesia di Solo. Persib di perbolehkan bermain, tetapi dengan syarat harus ada ikrar suporter untuk bedsatu, ikrar tersebut di ikuti oleh Viking, Pasoepati, La Mania dan Brajamusti. Ketika itu Viking berjalan jalan di kota Solo, mereka di dampingi oleh Bonek, di saat itu kedua kelompok suporter tersebut akrab, kejadian di pertandingan Persib melawan Perseden membuat hubungan Viking dan Bonek semakin erat, Viking yang di dampingi oleh Bonek dan suporter Perseden di bantu oleh Pasoepati.Dari situlah hubungan Viking dan Bonek selalu erat, ketik Bonek datang ke kota Bandung mereka selalu di jemput memberikan penginapan dan makan gratis, begitupun sebaliknya. Persahabatan tersebut bahkan di abadikan melalui lagu dengan jargon Viking Bonek Satu Hati. Ketika Persib bermain di Jawa Timur, Bonek selalu mendampingi dan turut mendukung saat berada di stadion, sebaliknya jika Bonek datang ke Jawa Barat. Rasa senasib juga sama yang di alami kedua kelompok tersebut, mereka sering di jadikan bahan Media sebagai headline utama berita kerusuhan.

Viking and Jakmania Rivalries
Perseteruan antara Bobotoh Persib dan Jackmania sudah berlangsung sejak tahun 2000, tepat disaat Liga Indonesia 6 berlangsung. Pada putaran pertama pertandingan, terdapat sekitar 6 buah bis suporter Persib datang ke Lebak Bulus yang masuk ke Tribun Timur. Saat itu bobotoh Persib yang bertandang terdiri dari beberapa komunitas, seperti : Balad Persib, Jurig, Stone Lovers, ABCD, Viking, dan lain-lain. Pada masa itu komunitas yang paling banyak anggotanya adalah Balad Persib. Meskipun situasi saat itu terbilang cukup panas dan hampir terjadi bentrokan dengan Jackmania, namun akhirnya bisa diredam. Bahkan antara bobotoh Persib dan Jackmania saling berjabat tangan.Usai pertandingan, rombongan bobotoh Persib didampingi Jackmania menuju bus sambil bersama-sama menyanyikan lagu “Halo Halo Bandung”.Pembicaraan kedua perwakilan suporter berlangsung lancar lantaran salah seorang Pengurus Jackmania yang bernama Erwan rajin ke Bandung. Kebetulan Erwan punya usaha membuat kaos dan memesannya di Bandung. Hubungan Erwan dengan Ayi Beutik sangat dekat sekali. Bahkan kabarnya Erwan yang saat itu masih membujang tertarik dengan adik perempuan Ayi Beutik. Oleh sebab kedekatan keduanya itulah, maka Ayi sebagai Panglima Viking sempat akrab dengan Jackmania. Pada saat itu Jackmania bermaksud hadir ke Bandung ketika tejadi partai tandang antara Persib dan Persija, namun tanpa ada kordinasi dengan pihak Viking untuk mempersiapkan kehadiran tamu yang tak di undang tersebut, sedangkan Jackmania sudah membentuk kepanitiaan dan mengurus Sekretaris Umum dan Bendahara Umum sebelumnya, yang saat itu dijabat oleh Faisal dan Danang. Mereka berdua bertugas membahas masalah tiket hingga tribun Jackmania.Kabar tersebut ternyata baru terdengar oleh para Bobotoh, bhawa Jakmania akan hadir, setelah mendengar berita tersebut secara mendadak, para bobotoh langsung rapat dibawah pimpinan sang Panglima Viking, Ayi Beutik. Pada saat itu para bobotoh mempertanyakan tindakan apa yang harus diambil oleh mereka ketika para Jackmania datang. Pada saat itu Ayi Beutik mengatakan agar para bobotoh memperingatkan Jackmania agar jangan macam-macam (bikin ulah). Kalau bikin ulah, pukul saja. namun kata kata tersebut di salah artikan oleh Bobotoh yang lain.Kronologis seperti ini. Saat pelaksanaan, ternyata Jackmania yang datang cukup banyak. Dalam pembicaraan semula, jumlah Jackmania yang akan hadir sudah di tentukan, namun kenyataannya berkembang menjadi lebih dari jumlah tersebut, tidak heran karena mendapat dana support atau gratis dari Sutiyoso. Tentu saja hal ini membuat panitia Jackmania yang belum berpengalaman mengkoordinasikan anggotanya untuk nonton tandang menjadi kewalahan. Akibatnya jam keberangkatan mereka pun sempat tertunda dan baru bisa berangkat ke Bandung jam 12 siang.Saat itu rombongan Jackmania terpecah menjadi 3 rombongan. Bis pertama berangkat terlebih dahulu karena mau ganti ban, lalu disusul rombongan kedua berjumlah 4 bis dan rombongan terakhir juga memakai beberapa bis tambahan. Panitia masih ragu apakah semua Jackmania akan mendapatkan tiket, sebab sesuai dengan kesepakatan awal.Bis pertama datang lebih dulu di Stadion Siliwangi. Kedatangan Jackmania disambut baik oleh Viking dan langsung mempersilahkan mereka masuk ke stadion. Padahal waktu itu mereka belum membawa tiket. Sementara itu diluar stadion bahkan di dalam, bobotoh persib yang hadir semakin banyak dan mendesak tertahan. Sebagian oknum bobotoh tidak suka dengan gaya mereka sembrono, mendatangi Jackmania dengan prilaku yang kurang simpatik. Mereka malah langsung memukul anggota Jackmania hingga berdarah. Setelah kejadian tersebut, suasana akhirnya menjadi kacau. Ayi sangat menyesalkan kejadian ini yang akhirnya menyeret kedua suporter ke dalam perseteruan yang berkepanjangan.Melihat situasi yang kurang kondusif di dalam dan luar stadion, Viking meminta agar rombongan Jackmania yang sudah terlanjur masuk ke dalam stadion untuk keluar dulu, sambil menunggu rombongan Jackmania lainnya. Mereka menuruti kemauan Viking. Namun di luar stadion suasana semakin tidak kondusif.Situasi di Stadion Siliwangi saat itu semakin panas. Guna meredam situasi, rombongan Jakmania kembali diungsikan menjauh dari stadion. Perwakilan Viking berinisiatif mengajak rombongan pertama Jackmania tersebut agar bergabung dengan rombongan lainnya yang lebih banyak jumlahnya, sambil meminta maaf terhadap kejadian tersebut. Namun mereka marah dan tidak bisa menerima perlakuan bobotoh Persib terhadap rekan mereka. Bahkan untuk berjabat tangan pun mereka tidak mau menerimanya.Akibat kejadian pemukulan yang dilakukan oknum bobotoh Persib, Jackmania mengurungkan niatnya menonton pertandingan laga tandang tim kesayangannya dan bermaksud kembali ke Jakarta. Saat rombongan mereka akan keluar Stadion Siliwangi, terjadi lagi serangan yang dilakukan sebagian oknum Bobotoh Persib yang berada di luar stadion. Keributan pun sempat terjadi yang menyulut api dendam yang berkepanjangan.Sejak kejadian tersebut menimbulkan luka di kedua suporter terswbut terutama Jackmania, Mereka tampaknya merasa dendam terhadap perlakuan anggota Viking. Ketika rombongan bobotoh ke Jakarta untuk menonton pertandingan PSSI melawan Irak, giliran bobotoh yang dipukulin Jackmania. Perselisihan pun akhirnya semakin tajam diantara kedua suporter.Puncak kejadian berikutnya adalah aksi balas dendam yang dilakukan Jackmania terhadap Viking. Kejadiannya bermula saat ada acara “Kuis Siapa Berani” di Stasiun TV Indosiar. Saat itu kedua kubu diundang untuk mengisi acara tersebut. Pada saat acara berlangsung, sebenarnya berlangsung sukses dan tidak terjadi apa-apa. Kebetulan acara tersebut dimenangkan oleh Viking.Entah bagaimana asal muasal, anggota Jackmania mendatangi anggota Viking mereka langsung memukulinya, dan menimbulkan keributan.Dalam waktu singkat banyak suporter Jackmania yang datang ke lokasi kejadian. Mereka bermaksud menyerang para bobotoh. Suasana semakin tidak terkendali yang membuat Polisi akhirnya mengungsikan rombongan Viking.Apa yang sudah dilakukan aparat keamanan ternyata sia-sia. Ketika rombongan Viking bermaksud kembali ke Bandung, terjadilah penghadangan oleh Jackmania di pintu tol Kebun Jeruk. Perkelahian tidak seimbang tidak bisa terelakkan lagi, antara rombongan Viking yang sedikit dengan rombongan Jackmania yang berjumlah banyak. Tak ayal lagi Viking menjadi bulan-bulanan Jackmania.Sejak kejadian tersebut nama Jackmania tercoreng. Media menuding Jackmania tidak menerima kekalahan mereka sehingga menyerang Viking. Masyarakat Bandung pun ramai-ramai ikut menghujat yang membuat perseteruan semakin kental. Kedua kubu semakin menanamkan kebencian terhadap lawannya kepada anggota baru komunitas mereka. Misalnya dengan membuat kaos dan lagu yang bersifat menghujat.

sumber : Tribun bobotoh

Comments are closed.